Alkisah ada seorang ibu yang mempunyai anak perempuan berusia tujuh tahun. Usia seperti itu menurut aturan negara wajib hukumnya untuk sekolah. Ini artinya kalau ada anak tidak sekolah pada usia tujuh tahun, hukumnya dosa besar. Tapi karena ini bukan aturan agama, kita tidak tahu apakah di akherat nanti si ibu dan anaknya akan diinterogasi malaikat dan kemudian dimasukan ke dalam api neraka.
Sekolah dan menuntut ilmu adalah sesuatu yang berbeda. Pada kenyataannya dua kata itu seringkali bertentangan maknanya secara esensial. Dalam terminologi agama menuntut ilmu hukumnya wajib, sedangkan sekolah tidak. Atau setidaknya kita tidak pernah menemukan ayat atau hadits tentang sekolah. Tapi dalam hidup bernegara yang wajib adalah sekolah.
Tapi tanpa menghayati aturan wajib belajar, si ibu sudah tahu kalau anaknya harus sekolah. Anaknya harus menjadi anak yang berguna, yang pintar, yang bisa menghitung dan membaca. Syukur-syukur bisa jadi sarjana dan mendapat pekerjaan yang layak di kemudian hari. Tapi impian seperti itu tentu menjadi tabu bagi ibu miskin seperti dia. Ia hanya seorang janda yang ditinggal kawin oleh suaminya. Ia sudah menikah tiga kali, dan ke semuanya meninggalkan wanita yang malang itu. Untuk bertahan hidup, ia bekerja serabutan dari menjadi pembantu sampai buruh tanam padi.
Si Ibu kebingungan soal biaya sekolahanaknya. Ia belum tahu kalau pemerintah mencanangkan sekolah gratis. Tapi kalaupun ia tahu, rasanya juga tidak ada gunanya. Kita akan lihat nanti di akhir kisah ini. Si ibu bingung apakah si anak akan dimasukan sekolah atau dibiarkan saja alam yang mendidiknya. Artinya si anak hanya belajar lewat sawah, sungai, hutan dan segala macam persoalan yang ada di desanya, termasuk dari ibunya sendiri. Dengan catatan besar ibunya hanya lulusan SD, dan waktu sekolah dulu ia termasuk murid yang sukses mendapat nilai-nilai jungkir balik; nilai-nilai yang bisa dirubah jadi bentuk angsa (2), kursi, terbalik (4) atau gambar angka delapan yang terbelah (3).
Beberapa minggu sebelum pendaftaran sekolah ia berkunjung ke rumah saudaranya yang ada di lain kota. Ini adalah rencana Tuhan yang maha punya rencana. Ia sudah lama sekali berkeinginan mengunjungi adiknya itu. Tetapi selalu terganjal persoalan terutama biaya. Ia sudah lama berjuang menyisihkan rupiah yang tidak seberapa ia miliki untuk ongkos, hingga terkumpullah uang sekitar dua puluh ribu rupiah. Dan dengan tekad yang dibarengi nekat, iapun sampai di kota saudaranya tinggal.
Ia berkunjung hanya untuk bersilaturahmi, ingin bertemu dengan sang adik yang sudah lama tidak bertemu karena terpisah jarak yang begitu jauh. Dalam pikirannya tidak terlintas untuk meminta subsidi pendidikan untuk anaknya. Tetapi atas ketepatan takdir Tuhan, si adik menanyakan tentang anak si kakak, juga termasuk sekolahnya. Meluncurlah dari mulut si kakak tentang kebingungannya menyekolahkan anaknya.
Keesokan harinya si adik dengan ditemani istrinya berbelanja ke pasar. Segala keperluan sekolah dibeli. Tas, seragam, sepatu, buku, pulpen, pensil, penghapus dan perlengkapan lainnya. Semua dibeli dengan semangat menolong kakak tercinta. Juga dengan harapan di masa depan si anak akan lebih baik hidupnya dibanding ibunya. Dari tanda-tanda yang ada, si anak menunjukkan bakatnya yang menonjol. Pada usia sekitar empat tahun ia sudah bisa menghitung dan hapal beberapa bacaan sholawat dan lagu-lagu yang sering muncul di tivi. Disinilah harapan itu disandarkan. Jadi bukan harapan kosong tanpa alasan.
Sampai di rumah si adik menyerahkan semua belanjaannya kepada si kakak. Si kakak nampak terharu. Anaknya nampak begitu senang dengan perlengkapan sekolahnya yang serba baru. Berkali-kali ia mencobanya dengan perasaan suka cita. Ia bergaya seolah-olah memang sudah sah sebagai anak sekolah dasar. Menggendong tas barunya hilir mudik di ruang tamu sampai dapur. Sungguh mengharukan!
Kemudian si adik masuk kamar diikuti istri. Keduanya menghitung ulang biaya belanja yang baru saja mereka habiskan. Hampir empat ratus ribu rupiah. Tidak apa. Tidak ada penyelesalan, meskipun sebenarnya itu uang belanja mereka selama sebulan. Demi kakak dan masa depan keponakan, mereka rela, ikhlas. Hidup memang harus saling tolong-menolong. Apalagi terhadap saudara. Soal makan sebulan, mereka serahkan pada Tuhan yang telah menjamin rizki setiap mahluknya. Mereka hanya perlu ikhtiar sebagai bentuk rasionalisasi atas siklus kehidupan mereka sebagai manusia. Tuhan tidak akan menjatuhkan sekarung uang emas di depan mata kita. Karena bila itu terjadi, itu pasti dongeng.
Mudah-mudahan sekolah gratis di Indonesia bukan semacam dongeng. Setidaknya hal itu didasarkan atas tiga alasan. Pertama, para pakar pendidikan mengatakan itu sangat mungkin. Kedua, di negara-negara lain hal itu bisa dilaksanakan. Ketiga, pemerintah Indonesia bukan Tuhan. Artinya, Tuhan tidak pernah mempermasalahkan apakah manusia sekolah atau tidak. Yang penting beriman dan bertaqwa. Sedangkan pemerintah berkepentingan terhadap warganya untuk sekolah agar ia dipandang sebagai pemerintahan yang baik dan benar.
Ketika si adik bertanya tentang pendaftaran sekolah dasar di desa tempat si kakak tinggal, meluncurlah angka dua ratus ribu rupiah sebagai uang pendaftaran dari mulut si kakak. Dengan wajah gemas bercampur geram si kakak meyakinkan bahwa itu illegal, tidak sesuai hukum, melanggar aturan dan pihak sekolah bisa kena sangsi. Si adik bicara berbusa-busa mengenai kebijakan pemerintah sekarang. Ia mencoba meyakinkan kakaknya dengan gaya seorang birokrat ulung bahwa pendidikan memang sudah gratis.
Tapi dalam hati sebenarnya ia tidak seyakin kata-kata yang dimuntahkannya. Jangan-jangan seperti yang sudah-sudah. Hukum tinggal hukum, aturan tinggal aturan, kebijakan sekolah tentang uang pendaftaran tetap tidak bisa diganggu gugat, untuk itu telah disiapkan sejuta satu alasannya sebagai pembenar. Kebijakan sekolah tidak boleh lebih rendah dibanding aturan hukum manapun di dunia ini.
Dan keraguan itu dibayar dengan memberikan dua ratus ribu lagi kepada si kakak untuk uang pendaftaran. Jadi total yang si adik keluarkan adalah enam ratus ribu lebih, termasuk untuk ongkos pulang.
Si adik mulai berpikir kata-kata seorang tokoh budayawan; berhenti berharap terhadap segala jenis kebijakan pemerintah yang sering kali justru tidak bijak. Artinya, kalau tiba-tiba sekolah gratis ya, syukur, kalau tidak ya, tidak apa-apa. Rakyat kecil seperti dia sudah terlalu capek berharap, meskipun itu merupakan hak elementernya sebagai warga negara.